Top 10 similar words or synonyms for tripolar

evolusionisme    0.730589

āstika    0.711829

komersialisme    0.709951

akysis    0.703606

zanden    0.702953

chelifera    0.701162

coad    0.699722

fiqhi    0.698619

antiteisme    0.698168

praeanthropus    0.696629

Top 30 analogous words or synonyms for tripolar

Article Example
Tipologi Tripolar (teologi) Pluralisme, adalah padangan bahwa Allah, yang disebut sebagai "Yang Nyata" ("The Real") dapat dikenal melalui bermacam-macam jalan. Semua agama menuju pada satu "Yang Nyata" ("The Real") yaitu Allah. Yesus Kristus dilihat sebagai salah satu dari jalan keselamatan di antara jalan-jalan keselamatan lain, bukan satu-satunya jalan keselamatan. John Hick adalah salah satu tokoh yang menggunakan pandangan ini. Menurut Hick, "Yang Nyata" sebenarnya adalah satu, namun dimaknai dalam berbagai simbol dan tradisi keagamaan yang berbeda-beda. Pandangan ini dinilai mengesampingkan keunikan dalam agama-agama karena semua agama disamakan.
Tipologi Tripolar (teologi) Tipologi Tripolar adalah salah satu pendekatan pada Teologi Agama-agama yang dipopulerkan oleh Alan Race. Tipologi tersebut digunakan sebagai standar di dalam studi teologi agama-agama, dan hingga kini masih banyak digunakan di dalam diskursus teologi agama-agama. Tipologi tripolar digunakan untuk memetakan beragam pendekatan para teolog dan non-teolog Kristen mengenai relasi kekristenan dengan agama-agama lain. Pemetaan ini didasarkan pada kesamaan dan perbedaan cara pandang mereka terhadap agama-agama lain di luar Kristen. Ketiga tipologi tersebut adalah eksklusivisme, inklusivisme dan pluralisme.
Tipologi Tripolar (teologi) Eksklusivisme adalah pandangan yang mengatakan bahwa kebenaran dan keselamatan hanya ada di dalam agama Kristen, sedangkan tradisi agama lain di luar Kristen tidak mendatangkan keselamatan. Agama-agama lain di luar kekeristenan dianggap tidak dapat menyelamatkan, karena itu orang beragama lain harus dikristenkan. Eksklusivisme merupakan karakteristik dari kebanyakan kelompok Kristen yang konservatif, terutama kalangan Injili. Salah satu tokoh yang mewakili pandangan ini adalah Karl Barth.
Tipologi Tripolar (teologi) Inklusivisme adalah sikap atau pandangan yang melihat bahwa agama-agama lain di luar kekristenan juga dikarunia rahmat dari Allah dan bisa diselamatkan, namun pemenuhan keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Kristus hadir dan berkeja juga di kalangan mereka yang mungkin tidak mengenal Kristus secara pribadi. Dalam pandangan ini, orang-orang dari agama lain, melalui anugerah atau rahmat Kristus, diikutsertakan dalam rencana keselamatan Allah. Inklusivisme terbagi dalam dua model, yakni model In Spite of dan model By Means of.
Tipologi Tripolar (teologi) Model "In Spite of", walaupun melihat institusi agama lain sebagai hambatan untuk menerima keselamatan, tidak menolak bahwa ada kemungkinan bahwa orang-orang yang beragama lain dapat diselamatkan oleh anugerah atau rahmat dari Allah. Sementara itu model "By Means of" bersikap lebih positif terhadap agama lain. Model ini melihat bahwa Allah juga memberikan rahmat melalui Kristus di dalam agama-agama lain, dalam kepercayaan dan ritual-ritual agama lain tersebut. Karena rahmat dan kehadiran Kristus di dalam diri dan mealalui agama-agama lain, maka orang-orang beragama lain itu juga terorientasi ke dalam gereja Kristen, dan disebut sebagai "Kristen Anonim". Pandangan ini dikemukakan oleh Karl Rahner.
Teologi komparatif Tipologi tripolar (eksklusivisme-inklusivisme-pluralisme) adalah salah satu pendekatan pada teologi agama-agama yang dipopulerkan oleh Alan Race. Tipologi tripolar digunakan untuk memetakan beragam pendekatan mengenai relasi kekristenan dengan agama-agama lain. Pembagian posisi ke dalam tiga kategori tersebut didasarkan pada kesamaan dan perbedaan cara pandang terhadap agama-agama non-Kristen.
Teologi komparatif Pendekatan tipologi tripolar dalam diskursus teologi agama-agama dinilai telah menemui kebuntuan dalam menyikapi kemajemukan agama. Menurut para teolog komparatif, tipologi tripolar yang memulai dari tradisi agama sendiri untuk menilai tradisi agama lain dalam usaha membangun Teologi Agama-agama, dapat saja dibutakan oleh tradisi agama sendiri sehingga tidak mampu melihat keunikan tradisi agama lain. Menurut Fredericks, ketiga tipologi dalam teologi agama-agama tersebut menghalangi umat Kristen untuk memahami kekuatan dan sesuatu yang baru dari tradisi agama lain. Lebih lanjut ia mangatakan bahwa teologi agama-agama tripolar tidak mendorong dialog yang otentik, serta tidak menghargai perbedaan dan keunikan setiap agama. Posisi eksklusivisme dan inklusivisme merupakan posisi yang tidak menghargai agama-agama yang lain, sedangkan pluralisme mereduksi partikularitas atau keunikan agama-agama. Selain itu, teologi agama-agama tripolar juga dianggap menghilangkan kesempatan bagi umat Kristen untuk belajar dari agama-agama yang berbeda.
Teologi komparatif Dalam berteologi komparatif, Clooney menyatakan perlunya sifat inklusivistis, yang berbeda dengan posisi inklusivisme menurut tipologi tripolar. Clooney juga menyatakan bahwa seorang komparativis Kristen yang memegang teguh kebenaran Kristen namun mencoba mencari kebenaran dalam tradisi lain, tidak akan menghakimi salah satu kebenaran salah atau tak berguna. Konflik antara klaim-klaim kebenaran kemungkinan akan berakhir tanpa kesimpulan akhir dan tanpa jawaban mengenai klaim yang benar. Namun demikian, komparasi antara dua tradisi untuk saling memperdalam tetap dapat dilakukan.
Alan Race Di dalam studi teologi agama-agama, Race dikenal sebagai teolog yang pertama kali memopulerkan penggunaan tipologi tripolar eksklusivisme-inklusivisme-pluralisme. Tipologi tersebut digunakan sebagai standar di dalam studi teologi agama-agama, dan hingga kini masih banyak digunakan di dalam diskursus teologi agama-agama. Dengan demikian, buku "Orang-orang Kristen dan Pluralisme Religius" ("Christians and Religious Pluralism") yang ditulisnya pada tahun 1983 menjadi salah satu literatur klasik di dalam studi teologi agama-agama Kristen.
Francis Xavier Clooney Dalam berteologi komparatif, Clooney menyatakan perlunya bersifat inklusivistis, yang berbeda dengan posisi inklusivisme menurut tipologi tripolar. Menurutnya pendekatan inklusif dilakukan dengan praktik membaca teks, bukan menggantikannya dengan sebuah teori tentang hal itu. Clooney juga menyatakan bahwa seorang komparativis Kristen yang memegang teguh kebenaran Kristen namun mencoba mencari kebenaran dalam tradisi lain, tidak akan menghakimi salah satu kebenaran salah atau tak berguna. Konflik antara dua klaim kebenaran kemungkinan akan berakhir tanpa kesimpulan akhir dan tanpa jawaban mengenai klaim yang benar. Namun, komparasi antara dua tradisi untuk saling memperdalam tetap dapat dilakukan.