Top 10 similar words or synonyms for poenale

sanctie    0.920683

verhandeling    0.656661

beleid    0.649936

schendel    0.648917

betrekkingen    0.640188

nieuwenhuijs    0.639201

wederopbouw    0.638808

brg    0.637559

vooral    0.636966

muur    0.631332

Top 30 analogous words or synonyms for poenale

Article Example
Poenale sanctie Poenale sanctie menjadi bagian dari Koelie Ordonnantie ('Ordonansi Kuli') tahun 1880 kemudian diperbaharui pada tahun 1889. aturan ini menetapkan bahwa para tuan tanah pemilik perkebunan boleh menghukum kuli nya dengan cara yang dianggap pantas, termasuk memberikan denda. Aturan ini membuat para pemilik perkebunan seakan menempati dua posisi yakni sebagai polisi dan hakim. Berbagai alasan menjadi sebab bagi penghukuman para kuli, berupa sifat malas, sombong atau kuli yang mencoba melarikan diri dari perkebunan. Karena aturan ini saksi hukuman cambuk menjadi sangat biasa dilakukan oleh para pemilik perkebunan di Hindia Belanda. Pemilik beranggapan bahwa tanpa hukuman cambuk tersebut, para kuli mereka adalah orang-orang bodoh dan malas yang tidak akan pernah melakukan pekerjaan mereka dengan baik dan benar.
Poenale sanctie Poenale sanctie (pidana sanksi) adalah sebuah sanksi hukuman pukulan dan kurungan badan yang dijalankan oleh kolonial Belanda yang berlaku di Suriname dan Hindia Belanda.
Poenale sanctie Para kuli perempuan juga diperlakukan secara tidak manusiawi. Sebagaimana dalam laporan seorang pengacara Belanda di Medan berjudul Millioenen uit Deli (tahun 1902) yang memaparkan peristiwa kesewenang-wenangan hukuman yang diterima seorang gadis kuli Jawa berusia antara 15-16 tahun yang disalib dengan tubuh telanjang selama berjam-jam dibawah panas matahari. Guna mencegah gadis terhukum itu pingsan pada kemaluannya dioleskan gilingan cabai. Kekejaman ini dianggap wajar oleh pemilik perkebunan dengan alasan bahwa kuli perempuan yang dihukum ini telah menolak melayani hubungan asmara dari tuannya yang berkulit putih dan lebih menerima hubungan asmara lelaki lain dari kalangan pribumi. Laporan yang dipublikasi oleh sebuah majalah di Belanda ini telah memicu protes meluas di negeri Belanda. Meskipun banyak menuai kritik dari sejak awal tahun 1900an, sanksi ini akhirnya baru dihapuskan pada tahun 1931.
Poenale sanctie Setelah penghapusan perbudakan di Suriname pada tahun 1863, para petugas kolonial diwajibkan merekrut para kuli dari Hindia Belanda dan dari India. Para kuli ini tunduk pada poenale sanctie karena kontrak mereka. Yang berarti bahwa dalam setiap kasus pelanggaran kontrak oleh para kuli tidak akan dikenakan hukum perdata, namun hukum pidana. Seorang pemilik perkebunan dan kaki tangannya diizinkan mengenakan hukuman yang sewenang-wenang bagi para kulinya selama mereka masih terikat kontrak. Poenale sanctie di Suriname secara resmi dihapuskan di Suriname pada 1 Januari 1948.
Koesoemo Oetoyo Bersama MH Thamrin pula Koesoemo Oetoyo mengadakan peninjauan ke Sumatera Timur dalam rangka melakukan penyelidikan terhadap nasib buruh perkebunan yang sangat menderita akibat adanya "poenale sanctie. Poenale sanctie" adalah peraturan yang menetapkan bahwa pekerja yang melarikan diri akan dicari dan ditangkap polisi kemudian dikembalikan kepada mandor/pengawasnya. Penyelidikan mereka tersebut pada akhirnya membawa hasil dengan dihapuskannya lembaga "poenale sanctie."
Jawa-Suriname Sampai dengan tahun 1930 para TKI itu dipekerjakan di perkebunan tebu, cacao (coklat), kopi dan pertambangan bauxite di bawah Poenale Sanctie. Sesudah tahun itu mereka bekerja sebagai buruh merdeka, tetapi faktanya masih harus bekerja dengan syarat-syarat Poenale Sanctie. 
Sanksi Sanksi dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Belanda, sanctie, seperti dalam "poenale sanctie" yang terkenal dalam sejarah Indonesia pada masa kolonial Belanda.
Chalid Salim Setelah meninggalkan bangku sekolah MULO (1923) di Weltevreden, Chalid Salim pergi bekerja ke Lumajang. Setelah itu ia mengikuti saudaranya Jacob Salim di Pontianak. Disini ia bekerja di kantor advokat dan aktif menulis di mingguan Halilintar Hindia. Kemudian ia pindah ke Medan, dan bekerja sebagai redaktur Pewarta Deli. Tulisannya banyak mengecam kebijakan pemerintah Hindia Belanda, seperti "poenale sanctie", hingga kedoknya sebagai aktivis komunis terbongkar. Chalid dipenjara selama setahun di Medan, sebelum akhirnya dibuang ke Boven Digul. Ia mendekam di Digul selama 15 tahun (1928-1943), dan merupakan salah satu tahanan politik yang paling lama mendekam di kamp tersebut.
Politik Etis Migrasi ke daerah luar Jawa hanya ditujukan ke daerah-daerah yang dikembangkan perkebunan-perkebunan milik Belanda. Hal ini karena adanya permintaan yang besar akan tenaga kerja di daerah-daerah perkebunan seperti perkebunan di Sumatera Utara, khususnya di Deli, Suriname, dan lain-lain. Mereka dijadikan kuli kontrak. Migrasi ke Lampung mempunyai tujuan menetap. Karena migrasi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja, maka tidak jarang banyak yang melarikan diri. Untuk mencegah agar pekerja tidak melarikan diri, pemerintah Belanda mengeluarkan "Poenale Sanctie", yaitu peraturan yang menetapkan bahwa pekerja yang melarikan diri akan dicari dan ditangkap polisi, kemudian dikembalikan kepada mandor/pengawasnya.
Parada Harahap Parada Harahap () adalah seorang jurnalis Indonesia yang lahir di Pargarutan, Sipirok, Tapanuli Selatan. Ia dijuluki "King of the Java Press" karena kemauannya yang keras dan semangat belajarnya yang tinggi, baik secara otodidak maupun mengikuti kursus-kursus. Sejak bulan Juli 1914, ia bekerja sebagai "leerling schryver" pada "Rubber Cultur My Amasterdam" di Sungai Karang, Asahan. Karena kecerdasan dan daya ingatnya yang sangat baik Parada Harahap kemudian dapat menggantikan juru buku berkebangsaan Jerman. Selama bekerja di perkebunan itu Parada Harahap terus belajar supaya dapat berbicara bahasa Belanda membaca surat kabar "De Sumatera Post" dan surat kabar berbahasa Melayu seperti "Benih Merdeka" dan "Pewarta Deli" serta mempelajari tulisan-tulisan yang dimuat dalam surat kabar itu. Pada tahun 1917 dan 1918 Parada Harahap telah menulis dan membongkar kekejaman "Poenale sanctie" dan perlakuan di luar batas perikemanusiaan terhadap kuli-kuli kontrak yang dilakukan baik oleh tuan kebun maupun bawahannya.