Top 10 similar words or synonyms for ardanareswara

ganesa    0.736429

siwa    0.702589

parwati    0.699158

awalokiteswara    0.658081

brahma    0.655955

manjusri    0.652653

durga    0.650596

bodhisatwa    0.641165

wishnu    0.632331

brahman    0.632314

Top 30 analogous words or synonyms for ardanareswara

Article Example
Ardanareswara Citra-citra Ardanareswara tertua berasal dari zaman Kemaharajaan Kusyana, semenjak abad pertama Tarikh Masehi. Ikonografi Ardanareswara dikembangkan dan disempurnakan pada zaman Kemaharajaan Gupta. Purana dan berbagai risalah ikonografi memuat keterangan tentang mitologi dan ikonografi Ardanareswara. Meskipun Ardanareswara merupakan ikonografi populer yang terdapat dalam banyak kuil Siwa di seluruh India, sedikit sekali kuil yang dibaktikan bagi dewata ini.
Ardanareswara Ardanareswara ditafsirkan sebagai suatu upaya untuk mempersatukan dua sekte utama agama Hindu, Saiwa dan Sakta, yang dibaktikan bagi Siwa dan Mahadewi. Citra sinkretis lain yang mirip dengan Ardanareswara adalah Harihara, wujud manunggal Siwa dan Wisnu, dewa tertinggi sekte Waisnawa.
Ardanareswara Jika digambarkan berlengan empat, salah satu lengan kiri bertumpu pada kepala Nandi, sementara yang satu lagi ditekuk membentuk sikap "kataka mudra" dan menggenggam sekuntum "nilotpala" (seroja biru) atau menggelantung bebas di sisi tubuhnya. Jika digambarkan berlengan tiga, maka pada tangan kanannya terdapat sekuntum bunga, sebingkai cermin, atau pun seekor burung bayan. Jika digambarkan berlengan dua, maka tangan kiri bertumpu pada kepala Nandi, menggelantung bebas, atau pun memegang sekuntum bunga, sebingkai cermin, atau seekor burung bayan. Burung bayan dapat pula digambarkan bertengger di tangan Parwati. Tangan atau tangan-tangannya dipercantik dengan perhiasan-perhiasan seperti "keyura" (kelat bahu) atau "kankana" (gelang).
Ardanareswara Pustaka kuil Tamil meriwayatkan bahwa sesudah berhimpun di alam Siwa, para dewa dan "resi" menghaturkan puja-puji bagi Siwa dan Parwati. Akan tetapi, Resi Bringgi telah bersumpah untuk hanya memuja satu dewata saja, yakni Siwa, sehingga mengabaikan Parwati tatkala menghaturkan puja-puji dan berpradaksina mengitari Siwa. Parwati tersinggung dan mengutuk Resi Bringgi agar sirna daging dan darahnya, sehingga hanya tersisa tulang-belulangnya saja. Dengan tubuh seperti itu, Resi Bringgi tidak mampu berdiri tegak, sehingga para dewa dan resi yang merasa iba menganugerahinya kaki ketiga untuk membantunya menegakkan tubuh. Sadar telah gagal mempermalukan Resi Bringgi, Parwati pun menghukum diri sendiri dengan bertapa sehingga membuat Siwa berkenan dan menjadikan Parwati sebagian dari dirinya, dengan demikian Resi Bringgi tidak dapat mengabaikan Parwati ketika hendak berpradaksina mengitari Siwa yang kini berwujud Ardanareswara. Akan tetapi Resi Bringgi berganti wujud menjadi seekor kumbang yang menggerek tembus bagian tengah dari tubuh Ardanareswara dan terbang berpradaksina mengelilingi belahan laki-laki saja. Hati Parwati tersentuh menyaksikan bakti yang sedemikian teguh dan memberkahi Resi Bringgi. Appar, salah seorang nayanara atau orang suci dalam mazhab Saiwa, mengajarkan bahwa setelah menikahi Parwati, Siwa menjadikan mempelainya itu sebagian dari tubuhnya.
Ardanareswara Belahan laki-laki mengenakan sebuah "jata-makuta" (hiasan kepala dari rambut yang dikepang dan disanggul tinggi membentuk mahkota) di kepalanya yang dihiasi bulan sabit. Kadang-kadang "jata-makuta" ini dihiasi ular-ular beludak dan Dewi Sungai Gangga yang mengalir turun dari rambutnya. Telinga kanan digelantungi sebentuk "nakra-kundala", "sarpa-kundala" ("anting-anting ular beludak") atau kundala ("anting-anting") biasa. Kadang-kadang, mata belahan laki-laki dibuat lebih kecil dari pada mata belahan perempuan dan juga berkumis separuh. Menurut tata-cara penggambaran Ardanareswara dalam naskah-naskah agama Hindu, Mata ketiga ("trinetra") dalam keadaan setengah terpejam ditempatkan pada dahi belahan laki-laki; "trinetra" dalam keadaan terbelalak ditempatkan tepat di tengah-tengah dahi; "trinetra" setengah terpejam dapat pula ditempatkan di atas atau di bawah bintik hiasan kening Parwati. Gambar pancaran sinar kedewataan yang membentuk lingkaran lonjong ("prabamandala"/"prabawali") boleh ditambahkan di belakang kepala Ardanareswara; kadang-kadang gambar prabawali pada masing-masing belahan dibuat berlainan coraknya.
Ardanareswara Jika digambar berlengan empat, salah satu lengan kanan menggenggam "parasu" (kapak) dan yang satu lagi membentuk sikap "abhaya mudra" (sikap ketidakgentaran), atau salah satu lengan kanan sedikit ditekuk dan menumpu pada kepala lembu Nandi, wahana Siwa, sementara yang satu lagi membentuk sikap "abhaya mudra". Aturan menggambar dalam kitab lain mengarahkan agar salah satu lengan kanan menggenggam "trisula" (serampang) dan yang satu lagi membentuk sikap "warada mudra" (sikap kedermawanan). Kitab lain mengarahkan agar jika digambarkan berlengan empat, salah satu lengan kanan menggenggam trisula dan satunya lagi menggenggam "aksamala" (tasbih). Jika digambarkan berlengan dua, tangan kanannya memegang kapala (cawan tengkorak) atau membentuk sikap "warada mudra". Belahan laki-laki Ardanareswara dapat pula digambarkan memegang tengkorak. Ardanareswara berlengan empat di relief Badami tampak memainkan sebuah wina (gambus), dengan satu lengan kiri dan satu lengan kanan, sementara satu lagi lengan belahan laki-laki menggenggam "parasu" dan satu lagi lengan belahan perempuan memegang sekuntum seroja.
Ardanareswara Parwati digambarkan memiliki sebelah payudara perempuan dewasa yang bulat dan berpinggang ramping yang feminin dan mengenakan bermacam-macam "haras" (kalung) dan perhiasan-perhiasan lainnya dari aneka ratna mutu manikam. Belahan perempuan memiliki tubuh yang lebih berlekuk serta paha dan pinggul yang lebih sintal dibanding belahan laki-laki. Bentuk badan, pinggul, dan pangkal paha belahan perempuan agak dilebih-lebihkan untuk memperjelas perbedaan anatomi antara kedua belahan. Meskipun kemaluan belahan laki-laki boleh digambarkan, kemaluan belahan perempuan tidak pernah digambarkan, dan pangkal pahanya selalu dililiti busana. Belahan perempuan mengenakan selembar busana semata kaki yang terbuat dari sutra beraneka warna atau putih polos beserta satu atau tiga utas ikat pinggang. Kakinya dihiasi gelang kaki dan telapak kakinya dimerahi dengan ramuan pacar kuku. Tungkai kiri sedikit ditekuk atau pun lurus, dan bertumpu di atas umpak seroja. Berbeda dari belahan Siwa, belahan Parwati – yang diluluri kuma-kuma – digambarkan tenang dan gemulai, berwarna hijau-nuri atau gelap. Tubuhnya dililiti selembar sari yang menutupi badan dan tungkainya.
Ardanareswara Kitab "Lingga Purana" menganjurkan penyembahan terhadap Ardanareswara agar para penyembah dapat mencapai kemanunggalan dengan Siwa kala dunia binasa dan dengan demikian mencapai keselamatan. "Ardanarinateswara Stotra" adalah sebuah kidung populer yang digubah khusus untuk memuja Ardanareswara. Para Nayanara dari Tamil Nadu memuja-muji dewata ini dengan kidung-kidung. Nayanara Cuntarar pada abad ke-8 mengatakan bahwa Siwa senantiasa tak terpisahkan dari Sang Dewi Ibu, sementara Nayanara Campantar pada abad ke-7 membabarkan bahwa "keperempuanan abadi" bukan sekadar mempelai Siwa, melainkan juga sebagian dari dirinya. Kalidasa (ca. abad ke-4 sampai abad ke-5), pujangga Sanskerta yang termasyhur, juga menyebut-nyebut Ardanareswara dalam karya-karyanya, Raguwangsa dan Maliwikagnimitra, dan mengatakan bahwa Siwa dan Sakti tak terpisahkan laksana kata dan makna. Nayanara Manikkavacakar pada abad ke-9 menampilkan Parwati selaku pemuja utama Siwa dalam kidung-kidung gubahannya. Ia beberapa kali menyebut-nyebut tentang Ardanareswara dan menganggapnya sebagai tujuan akhir seorang pemuja untuk manunggal dengan Siwa sebagai Parwati dalam wujud Ardanareswara.
Ardanareswara Gagasan Ardanareswara agaknya terilhami oleh wujud manunggal Yama-Yami dalam sastra Weda, penggambaran Wiswarupa atau Prajapati Sang Maha Pencipta Purbakala dan Agni Sang Dewa Api dalam Kitab Weda sebagai seekor "banteng sekaligus lembu," penggambaran Atman ("jiwa") berwujud Purusa sang insan jagat yang androgini dalam Kitab Brihadaranyaka Upanisad, serta makhluk-makhluk androgini seperti Hermafroditos dalam mitologi Yunani kuno dan Agdistis dalam mitologi Frigia. Dalam Kitab Brihadaranyaka Upanisad diriwayatkan bahwa Purusa membelah diri menjadi dua bagian, laki-laki dan perempuan, keduanya kemudian bersetubuh dan menurunkan segala jenis makhluk bernyawa – bertema sama dengan kisah-kisah Ardanareswara. Kitab Swetaswatara Upanisad berisi gagasan yang menjadi cikal-bakal keberadaan Ardhanarishvara dalam kitab-kitab purana. Dalam kitab ini, Rudra – wujud purbakala dari Siwa – disebut sebagai pencipta alam semesta dan pangkal keberadaan Purusa (hakikat kelelakian) dan Prakerti (hakikat keperempuanan), sesuai dengan falsafah Samkhya. Kitab Swetaswatara Upanisad menyiratkan hakikat androgini dari Rudra dengan menggambarkannya baik sebagai laki-laki maupun sebagai perempuan.
Ardanareswara Ardanareswara dapat saja membentuk sikap tubuh "tribangga" – tertekuk di tiga tempat: kepala (teleng ke kiri), dada (condong ke kanan) dan tungkai kanan, ataupun membentuk sikap tubuh "stana mudra" (tegak lurus), sesekali digambarkan berdiri di atas sebuah lapik seroja, yang jika demikian maka akan disebut "samapada" (sama kaki). Citra-citra Ardanareswara dalam posisi duduk sudah tidak ditemukan lagi dalam risalah-risalah ikonografi, tetapi masih dapat dijumpai dalam rupa arca dan lukisan. Seskipun aturan-aturan penggambaran seringkali menetapkan lembu Nandi sebagai "wahana" (tunggangan) Ardanareswara, beberapa citra Ardanareswara menggambarkan lembu "wahana" Siwa dalam posisi duduk atau berdiri di samping atau di belakang kakinya, dan singa "wahana" Parwati de dekat kakinya.